ANDRAGOGI DAN PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI-KOMUNIKASI (TIK)

Oleh : Hamka

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan adalah salah satu pilar kehidupan bangsa. Masa depan suatu bangsa bisa diketahui melalui sejauh mana komitmen masyarakat, bangsa atau pun negara dalam menyelenggarakan pendidikan nasional.

Dan dalam Pembukaan (Preambule) Undang-Undang Dasar 45 menyatakan “Kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa, seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”. Inti dari kalimat ini bahwa pendidikan menjadi salah satu dari tujuan bangsa ini.

Untuk mewujudkan isi/amanat Pembukaan UUD’45 pada era sekarang ini, pendidikan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan suatu hal yang tak dapat dipungkiri baik pada tataran pelaksanaan pedagogi maupun andragogi. Dua kelompok umur pembelajar ini tidak jauh berbeda. Perbedaan antara membelajarkan anak-anak dengan membelajarkan orang dewasa terlihat dari upaya pembelajaran orang dewasa membelajarkan orang dewasa berpusat pada warga belajar itu sendiri (learned centered). Tutor harus memperhatikan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Prinsip tersebut dijadikan pegangan atau panduan dalam praktek membimbing kegiatan belajar orang dewasa. Pendekatan-pendekatan pembelajaran orang dewasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip belajarnya dapat dipandang sebagai ilmu dan seni (art and science) membantu atau menolong orang dewasa belajar.

Berkaitan dengan paparan diatas, makalah ini akan membahas tentang Andragogi dan Proses Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi-Komunikasi (TIK).

B. Fokus Pembahasan

Fokus pembahasan makalah ini antara lain:

1. Andragogi

2. Perkembangan Teori Belajar Andragogi

3. Asumsi-Asumsi Pokok Teori Belajar Andragogi

4. Andragogi dan Psikologi Perkembangan

5. Pengaruh Penurunan Faktor Fisik dalam Belajar

6. Langkah-Langkah Pokok dalam Andragogi

7. Perbandingan Asumsi dan Model Pedagogi dan Andragogi

8. Andargogi dalam era Teknologi

9. Keunggulan dan Kelemahan Teori Belajar Andragogi

BAB II

PEMBAHASAN

A. Andragogi

1. Teori Belajar Andragogi

Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno: “aner“, dengan akar kata andr, yang berarti orang dewasa, dan agogus yang berarti membimbing atau membina. Istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah “pedagogi”, yang ditarik dari kata “paid” artinya anak dan “agogus” artinya membimbing atau memimpin. Dengan demikian secara harfiah “pedagogi” berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak.

Pada prinsipnya, pendidikan anak-anak dapat diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa. Perbedaan antara membelajarkan anak-anak dengan membelajarkan orang dewasa terlihat dari upaya pembelajaran orang dewasa membelajarkan orang dewasa berpusat pada warga belajar.

Orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri.

2. Asumsi-Asumsi Pokok Teori Belajar Andragogi

Malcolm Knowles (1970) dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:

  1. Konsep Diri

Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination), mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction).

Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis yang dalam agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sifatnya sementara.Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan.

  1. Peranan Pengalaman

Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru.

Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan ” Experiential Learning Cycle ” (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman). Hal in menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik kepelatihan. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapang, melakukan praktek dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta atau partisipasi peserta pelatihan.

c.   Kesiapan Belajar

Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi. Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pelatihan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peranan sosialnya.

  1. Orientasi Belajar

Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation).

Belajar bagi orang dewasa merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian. Selain itu, perbedaan asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih tinggi. Hal ini menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.

3. Perkembangan Teori Belajar Andragogi

Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul “The Adult Learner, A Neglected Species ” yang diterbitkan pada tahun 1970 mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah “Andragogi” makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan. Sebelum muncul Andragogi, yang digunakan dalam kegiatan belajat adalah Pedagogy.

Konsep ini menempatkan murid/siswa sebagai obyek di dalam pendidikan, mereka mesti menerima pendidikan yang sudah di setup oleh sistem pendidikan, di setup oleh gurunya/pengajarnya. Apa yang dipelajari, materi yang akan diterima, metode panyampaiannya, dan lain-lain, semua tergantung kepada pengajar dan tergantung kepada sistem. Murid sebagai obyek dari pendidikan.

Dari konsep pendidikan andragogy inilah kemudian muncul konsep-konsep Liberalisme pendidikan, Liberasionisme pendidikan dan Anarkisme pendidikan.

4. Prinsip-Prinsip Belajar Orang Dewasa
Orang dewasa secara individu telah mandiri, mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Dengan kemampuan dan pengalaman yang berbeda pembelajaran orang dewasa berlangsung dengan bertukar kemampuan.

Sehubungan dengan hal tersebut, pembelajaran orang dewasa akan efektif apabila:

ü        Orang dewasa secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan.

ü        Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.

ü        Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis

ü        Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar lebih baik

ü        Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup

ü        Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari warga belajar

ü        Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa membantu pencapaian tujuan dalam belajar.

5. Karakteristik Belajar Orang Dewasa
Proses pembelajaran orang dewasa memiliki keunikan. Keunikan tersebut merupakan karakteristik belajar orang dewasa.

Karakteristik belajar orang dewasa, antara lain:

ü        Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda

ü        Orang dewasa yang miskin mempunyai tendensi, merasa bahwa dia tidak dapat menentukan kehidupannya sendiri.

ü        Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran dari pada digurui

ü        Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya

ü        Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan

ü        Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecendrungan untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya

ü        Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahamannya

ü        Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama

ü        Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan iktikad yang baik, adil dan masuk akal

ü        Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena itu ia lebih suka melakukan sendiri sebanyak mungkin

ü        Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis

ü        Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalon hubungan dekat dengan teman baru.

7. Karakteristik Pengajar Orang Dewasa
Seorang pengajar orang dewasa haruslah memenuhi persyaratan berikut :

ü        Menjadi anggota dari kelompok yang diajar

ü        Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar

ü        Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk kerjanya

ü        Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain

ü        Menyadari kelemahannya, tingkat keterbukaannya, kekuatannya dan tahu bahwa di antara kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu.

ü        Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya

ü        Peka dan mengerti perasaan orang lain, lewat pengamatan

ü        Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang

ü        Selalu optimis dan mempunyai iktikad baik terhadap orang

ü        Menyadari bahwa “perannya bukan mengajar, tetapi menciptakan iklim untuk belajar”

ü        Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi negatif fan pisitif.

8. Langkah-Langkah Pokok dalam Andragogi

Langkah-langkah pokok untuk mempraktikkan Andragogi adalah sebagai berikut:

ü        Menciptakan iklim untuk belajar

ü        Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu

ü        Menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai

ü        Merumuskan tujuan belajar

ü        Merancang kegiatan belajar

ü        Melaksanakan kegiatan belajar

ü        Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan pencapaian nilai-nilai.

9. Andragogi dan Psikologi Perkembangan

Teori Peaget (1959) mengenai perkembangan psikologi dari kurang lebih 12 tahun ke atas individu sudah dapat berfikir dalam bentuk dewasa (formal operation). Dalam tingkatan perkembangan ini individu sudah dapat memecahkan segala persoalan secara logik, berfikir secara ilmiah, dapat memecahkan masalah-masalah verbal yang kompleks atau secara singkat sudah tercapai kematangan struktur kognitifnya.

Dalam periode ini individu mulai mengembangkan pengertian akan diri (self) atau identitas (identitiy) yang dapat dikonsepsikan terpisah dari dunia luar di sekitarnya.

Remaja (adolescence) tidak hanya dapat mengerti keadaan benda-benda di dekatnya tetapi juga kemungkinan keadaan benda-benda itu di duga. Dalam masalah nilai-nilai remaja mulai mempertanyakan dan membanding-bandingkan. Nilai-nilai yang diharapkan selalu dibandingkan dengan nilai yang aktual. Secara singkat dapat dikatakan remaja adalah tingkatan kehidupan dimana proses semacam itu terjadi, dan ini berjalan terus sampai mencapai kematangan.

Dengan begitu jelaslah kiranya bahwa pemuda (tidak hanya orang dewasa) memiliki kemampuan memikirkan dirinya sendiri, dan menyadari bahwa terdapat keadaan yang bertentangan antara nilai-nilai yang dianut dan tingkah laku orang lain. Oleh karena itu, dapat dikatakan sejak pertengaham masa remaja individu mengembangkan apa yang dikatakan “pengertian diri” (sense of identity).

Pembelajaran yang diberikan kepada orang dewasa dapat efektif (lebih cepat dan melekat pada ingatannya), bilamana pembimbing (pelatih, pengajar, penatar, instruktur, dan sejenisnya) tidak terlalu mendominasi kelompok kelas, mengurangi banyak bicara, namun mengupayakan agar individu orang dewasa itu mampu menemukan alternatif-alternatif untuk mengembangkan kepribadian mereka. Seorang pembimbing yang baik harus berupaya untuk banyak mendengarkan dan menerima gagasan seseorang, kemudian menilai dan menjawab pertanyaan yang diajukan mereka.

Orang dewasa pada hakikatnya adalah makhluk yang kreatif bilamana seseorang mampu menggerakkan/menggali potensi yang ada dalam diri mereka. Dalam upaya ini, diperlukan keterampilan dan kiat khusus yang dapat digunakan dalam pembelajaran tersebut. Di samping itu, orang dewasa dapat dibelajarkan lebih aktif apabila mereka merasa ikut dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran, terutama apabila mereka dilibatkan memberi sumbangan pikiran dan gagasan yang membuat mereka merasa berharga dan memiliki harga diri di depan sesama temannya. Artinya, orang dewasa akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadinya dihormati, dan akan lebih senang kalau ia boleh sumbang saran pemikiran dan mengemukakan ide pikirannya, daripada pembimbing melulu menjejalkan teori dan gagasannya sendiri kepada mereka.

Sifat belajar bagi orang dewasa subjektif dan unik, terlepas dari benar atau salahnya, segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, teori, sistem nilainya perlu dihargai. Tidak menghargai (meremehkan dan menyampingkan) harga diri mereka, hanya akan mematikan gairah belajar orang dewasa.

Namun demikian, pembelajaran orang dewasa perlu pula mendapatkan kepercayaan dari pembimbingnya, dan pada akhirnya mereka harus mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri. Tanpa kepercayaan diri tersebut, maka suasana belajar yang kondusif tak akan pernah terwujud. Orang dewasa memiliki sistem nilai yang berbeda, mempunyai pendapat dan pendirian yang berbeda. Dengan terciptanya suasana yang baik, mereka akan dapat mengemukakan isi hati dan isi pikirannya tanpa rasa takut dan cemas, walaupun mereka saling berbeda pendapat. Orang dewasa mestinya memiliki perasaan bahwa dalam suasana/ situasi belajar yang bagaimanapun, mereka boleh berbeda pendapat dan boleh berbuat salah tanpa dirinya terancam oleh sesuatu sanksi (dipermalukan, pemecatan, cemoohan, dll).

Keterbukaan seorang pembimbing sangat membantu bagi kemajuan orang dewasa dalam mengembangkan potensi pribadinya di dalam kelas, atau di tempat pelatihan. Sifat keterbukaan untuk mengungkapkan diri, dan terbuka untuk mendengarkan gagasan, akan berdampak baik bagi kesehatan psikologis, dan psikis mereka. Di samping itu, harus dihindari segala bentuk akibat yang membuat orang dewasa mendapat ejekan, hinaan, atau dipermalukan. Jalan terbaik hanyalah diciptakannya suasana keterbukaan dalam segala hal, sehingga berbagai alternatif kebebasan mengemukakan ide/gagasan dapat diciptakan.

Dalam hal lainnya, tidak dapat dinafikkan bahwa orang dewasa belajar secara khas dan unik. Faktor tingkat kecerdasan, kepercayaan diri, dan perasaan yang terkendali harus diakui sebagai hak pribadi yang khas sehingga keputusan yang diambil tidak harus selalu sama dengan pribadi orang lain. Kebersamaan dalam kelompok tidak selalu harus sama dalam pribadi, sebab akan sangat membosankan kalau saja suasana yang seakan hanya mengakui satu kebenaran tanpa adanya kritik yang memperlihatkan perbedaan tersebut. Oleh sebab itu, latar belakang pendidikan, latar belakang kebudayaan, dan pengalaman masa lampau masing-masing individu dapat memberi warna yang berbeda pada setiap keputusan yang diambil.

Bagi orang dewasa, terciptanya suasana belajar yang kondusif merupakan suatu fasilitas yang mendorong mereka mau mencoba perilaku baru, berani tampil beda, dapat berlaku dengan sikap baru dan mau mencoba pengetahuan baru yang mereka peroleh. Walaupun sesuatu yang baru mengandung resiko terjadinya kesalahan, namun kesalahan, dan kekeliruan itu sendiri merupakan bagian yang wajar dari belajar.

Pada akhirnya, orang dewasa ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok belajar itu. Bagi orang dewasa ada kecenderungan ingin mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Dengan demikian, diperlukan adanya evaluasi bersama oleh seluruh anggota kelompok dirasakannya berharga untuk bahan renungan, di mana renungan itu dapat mengevaluasi dirinya dari orang lain yang persepsinya bisa saja memiliki perbedaan.

10. Pengaruh Penurunan Faktor Fisik dalam Belajar

Kemampuan belajar orang dewasa bertolak belakang dengan usia. Artinya, setiap individu orang dewasa, makin bertambah usianya, akan semakin sukar baginya belajar (karena semua aspek kemampuan fisiknya semakin menurun). Kemampuan fisik terebut berpengaruh pada daya ingat, kekuatan fisik, kemampuan menalar, kemampuan berkonsentrasi, dan lain-lain. Faktor-faktor tersebut akan terus bertambah dengan usianya.

Penurunan faktor fisik orang dewasa yang biasanya terjadi antara lain:

ü        Penglihatan

ü        Pendengaran

ü        Ingatan

ü        Refleksi

ü        Konsentrasi

B. Andragogi dan Pembelajaran Berbasis (TIK)

Perbedaan utama antara negara maju dan negara berkembang adalah kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di negara-negara maju karena didukung oleh sistem informasi yang mapan.

Sistem informasi yang lemah di negara-negara berkembang mengakibatkan keterbelakangan dalam penguasaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Jadi jelaslah bahwa maju atau tidaknya suatu negara sangat di tentukan oleh penguasaan teirhadap informasi, karena informasi merupakan modal utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan.teknologi yang menjadi senjata pokok untuk membangun negara.

Di era globalisasi dan informasi ini penguasaan terhadap informasi tidak cukup harnya sekedar menguasai, diperlukan kecepatan dan ketepatan. Sebab hampir tidak ada guna menguasai informasi yang telah usang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat mengakibatkan usia informasi menjadi sangat pendek, dengan kata lain, informasi lama akan diabaikan dengan adanya informasi yang baru.

Penggunaan atau penerapan proses pendidikan atas dasar pendekatan andragogi telah mulai dikembangkan beberapa waktu terakhir ini. Terutama di daratan Eropa, perkembangannya sangat pesat dan dalam banyak hal jauh melampaui perkembangan yang sama di Amerika Serikat.  Di Eropa, pendekatan andragogi sudah mulai digunakan dalam penanganan kasus-kasus dalam bidang pelayanan masyarakat, proses pemasyarakatn kembali, pendidikan luar sekolah, manajemen personalia, organisai-organisai massa, program pembangunan masyarakat dan sebagainya.

Dalam keseluruhan proses perkembangan dan pengalaman penerapan tersebut, ternyata ditmukan banyak bukti yang memperkuat anggapan-anggapan dasar pendekatan andragogi ini, sekaligus memperkaya berbagai bentuk metodologi pendidikan yang didukung oleh perangkat-perangkat teknologi yang lebih berdaya hasil dan tepat guna.

BAB III

KESIMPULAN

Teori Belajar Adragogi dapat diterapkan apabila diyakini bahwa peserta didik (siswa-mahasiswa-peserta) adalah pribadi-pribadi yang matang, dapat mengarahkan diri mereka sendiri, mengerti diri sendiri, dapat mengambil keputusan untuk sesuatu yang menyangkut dirinya.

Andragogi tidak akan mungkin berkembang apabila meninggalkan ideal dasar orang dewasa sebagai pribadi yang mengarahkan diri sendiri. Yang menjadi tolok ukur sebuah kedewasaan bukanlah umur, namun sikap dan perilaku, sebab tidak jarang orang yang sudah berumur, namun belum dewasa. Memang, menjadi tua adalah suatu keharusan dan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan yang tidak setiap individu memilihnya seiring dengan semakin lanjut usianya.

Teori belajar yang digunakan dalam RPP ini adalah Teori Kognitif, Beaviorisme, Konstruktifisme. Model Pembelajaran yang digunakan adalah Pembelajaraan kooperatif yang mengutamakan kerja sama kelompok dan Prolem Based Learning yang berbasis masalah.Implikasi dari penggunaan model pembelajaran ini diharapkan siswa mampu berfikir kritis, merusaha membangun dan menemukan jawaban atas pertanyaan/masalah yang dilontarkan guru dan mampu bekerja sama dalam kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Zainuddin. (1994). Andragogi. Bandung: Angkasa.

Asmin, Konsep dan Metode Pembelajaran Untuk Orang Dewasa (Andragogi), http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/34/konsep_dan_metode_pembelajaran.

htm, Diakses tanggal 11 November 2006.

Baharudin.2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz

Edward C. Linderman (1926). The Meaning of Adult Education. New York: New Republic. Redistributed edition 1989 Pedagogy From the Greek word paid, meaning child, and agogus meaning leader of

Edward C. Linderman (1926). The Meaning of Adult Education. New York: New Republic. Redistributed edition 1989 Pedagogy From the Greek word paid, meaning child, and agogus meaning leader of

John Dewey tested and proved his theories in the Laboratory School established at the University of Chi-cago in 1896.

John Dewey tested and proved his theories in the Laboratory School established at the University of Chi-cago in 1896.

Knowles, Malcolm S. (1970). “The modern practicsof adult education, andragogy versus “.  New York : Association Press.

Lunandi, A, G. (1987). Pendidikan Orang Dewasa . Jakarta: Gramedia.

Malcolm Knowles (1998) The adult learner : The Defivitive Classic in Adult Education and Human Resource Depelopment, Huston, TX: Gulf Publising.

M. Thoyib. (2006). Memfasilitasi Pelatihan Partisipatif (Pengantar Pendidikan Orang Dewasa) , http://depsos.go.id/modules.php?name=News&file =print&sid=209, diakses tanggal 11 November 2006.

Piaget, J. (1959). “The growth of logical thinking from childood fo adolescence. New York : Basic Books.

Tamat, Tisnowati. (1984). Dari Pedagogik ke Andragogik. Jakarta: Pustaka Dian.

Zikwan.2009.Tugas MK MTP. Unila: Copyrig

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: