MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KONSEP CIRI-CIRI KHUSUS BEBERAPA JENIS TUMBUHAN MELALUI PROBLEM BASED LEARNING SISWA KELAS VI SEMESTER I SDN 2 RAWA LAUT BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2008/2009

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

  1. JUDUL PENELITIAN

Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Ciri-ciri Khusus Beberapa Jenis Tumbuhan Melalui Problem Based Learning Siswa Kelas VI Semester I SDN 2 Rawa Laut  Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2008/2009

 

  1. BIDANG ILMU

IPA  Konsep Ciri-ciri Khusus Beberapa Jenis Tumbuhan

  1. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memerlukan usaha dan dana yang cukup besar, hal ini diakui oleh semua orang atau suatu bangsa demi kelangsungan masa depannya. Meski diakui bahwa pendidikan adalah investasi besar jangka panjang yang harus ditata, disiapkan dan diberikan sarana maupun prasarananya dalam arti modal material yang cukup besar.

Pendidikan secara umum adalah suatu proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Pendidikan dalam hal ini bukan hanya sebuah pengajaran yang berorientasi pada kecakapan individu teoritis (teoritis individual), akan tetapi pendidikan lebih ditekankan kepada individual practice yang mampu membawa diri beradaptasi dengan lingkungan, serta dapat memberikan kreatifitas yang bermakna terhadap diri, keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitar. Hal tersebut pada program pendidikan di Indonesia telah diatur pada peraturan perundang-undangan pendidikan nasional.

Rumusan mengenai sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan proses pendidikan dan pengajaran di Indonesia mengacu pada tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional serta Garis-Garis Besar Haluan Negara Republik Indonesia dengan ketetapan MPR Nomor II/ MPR/1993, bidang pendidikan bahwa: “Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cita tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan”.

Untuk merealisasikan tujuan pendidikan seperti yang telah dipaparkan di atas, tentunya diperlukan upaya maksimal dari berbagai pihak, dalam melihat tugas dan tanggung jawab pendidikan itu, tanpa harus terikat dengan kondisi formal pendidikan semata.

Indikator keberhasilan suatu proses pendidikan dan pengajaran tentunya tidak hanya terbatas pada sederetan angka-angka prestasi belajar, akan tetapi harus terkait dengan kemampuan seseorang anak didik merefleksikan program belajarnya dalam bentuk aplikasi sikap positif melalui serangkaian aktivitas yang selektif dan efektif.

Dalam prestasi yang demikian itu, dapat dipahami bahwa aspek nilai yang ditransfer dalam dunia pendidikan dan pengajaran harus selalu terkait dengan unsur pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diproyeksikan melalui kurikulum dan silabus pengajaran, untuk selanjutnya dioperasionalisasikan melalui kegiatan pengajaran.

Kenyataan empiris proses pendidikan dan pengajaran yang dikembangkan di berbagai lembaga pendidikan menunjukkan bahwa penerapan pola pendidikan dan pengajaran yang tepat, tampaknya masih kurang mendapat perhatian yang memadai dari tenaga pengajar. Sehingga proses pengajaran cenderung tidak relevan dengan pola pendekatan atau metode pengajaran yang digunakan. Hal ini menyebabkan sisi kualitas pengajaran yang diharapkan kurang terpenuhi. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk melihat efektivitas suatu pendekatan dan metode pengajaran proses belajar mengajar yang dilakukan dapat berhasil guna dan memudahkan bagi siswa dalam memahami   suatu disiplin ilmu atau mata pelajaran diterimanya.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Sains berhubungan dengan cara belajar empiris mencari tahu tentang alam secara sistematis, IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan proses penemuan. Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Implementasi proses pembelajaran IPA ditekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran IPA diarahkan untuk berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SD/MI, dijelaskan IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat di identifikasikan.

Pembelajaran IPA sebaiknya menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu, pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Nasution (2003:36-38) menyebutkan bahwa tujuan proses belajar mengajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dapat dikuasai sepenuhnya oleh peserta didik.

Berdasarkan hasil pengalaman peneliti dalam mengajar IPA di SDN 2 Rawa Laut, bahwa pembelajaran IPA masih menekankan pada konsep-konsep yang terdapat di dalam buku, dan juga belum memanfaatkan pendekatan lingkungan dalam pembelajaran secara maksimal. Mengajak siswa berinteraksi langsung dengan lingkungan jarang dilakukan. Hal ini membuat pembelajaran tidak efektif, karena siswa kurang merespon terhadap pelajaran yang disampaikan. Maka pengajaran semacam ini cenderung menyebabkan kebosanan kepada siswa.

Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas, pembelajaran IPA di SDN 2 Rawa Laut dengan kondisi peserta didik yang ada pada saat ini serta mendasari pada hasil rata-rata tes kemampuan awal yang dilakukan ternyata hasilnya masih dibawah Kriteia Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65,00.

Para siswa sebenarnya memiliki kemampuan awal yang telah diterima di kelas sebelumnya. Kemampuan awal siswa ini harus digali agar siswa lebih belajar mandiri dan kreatif, khususnya ketika mereka akan mengkaitkan dengan pelajaran baru.

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah menggunakan pendekatan pembelajaran konsep-konsep yang dikembangkan berhubungan dengan alam sekitar agar menjadi konteks pembelajaran yang bermakna.

Oemar Hamalik (2003:50) berpendapat, bahwa unsur-unsur dinamis yang terkait dalam proses belajar terdiri dari (1) motivasi siswa; (2) bahan belajar; (3) alat bantu belajar; (4) suasana belajar; dan (5) kondisi subyek yang belajar. Kelima unsur inilah menurutnya yang bersifat dinamis, yang sering berubah menguat atau melemah, dan yang mempengaruhi proses belajar tersebut.

Berdasarkan beberapa fakta tersebut diatas, salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan sebagai solusi dalam meningkatkan hasil belajar konsep ciri-ciri khusus beberapa Jenis Tumbuhan adalah menggunakan Problem Based Learning. Ada beberapa keunggulan dari metode ini, diantaranya: lebih menantang, kontekstual, siswa sendiri yang menemukan, dan menumbuhkan semangat kemandirian siswa. Hal  yang terpenting adalah siswa merasa perlu untuk mencari jawaban dari soal/problem yang ditemuinya yang benar-benar  terjadi di lingkungannya dan melatih bagaimana proses menemukan  jawaban tersebut secara ilmiah dan sistematis.

Berdasarkan dari pemikiran di atas, penulis dengan segenap kemampuan untuk mencoba melakukan suatu penelitian sekitar penggunaan metode pemberian tugas dalam pengajaran IPA yang oleh penulis diduga meningkatkan hasil belajar siswa.

  1. Perumusan dan Pemecahan Masalah

Berdasarkan masalah di atas, permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

Apakah melalui pendekatan Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar konsep ciri-ciri khusus khusus beberapa Jenis Tumbuhan?

  1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan :

a. Melalui pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based   Learning) dapat meningkatkan proses belajar siswa dalam pembelajaran konsep ciri-ciri khusus khusus beberapa Jenis Tumbuhan.

b. Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran konsep ciri-ciri khusus beberapa Jenis Tumbuhan melalui pendekatan pembelajaran. berdasarkan masalah (Problem Based Learning).

  1. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak sekolah, guru IPA, dan para siswa:

a.Guru dapat menerapkan pembelajaran berdasarkan masalah sebagai salah satu metode yang dapat membantu guru dalam membelajarkan siswa konsep ciri-ciri khusus beberapa Jenis Tumbuhan sehingga dengan mudah memahami konsep tersebut dengan baik sehingga pembelajaran IPA di kelas tidak monoton.

b.Siswa dapat termotivasi dalam pembelajaran sehingga mengurangi kebosanan dalam belajar.

c.Kemampuan awal siswa dapat digali secara optimal agar siswa belajar lebih mandiri dan kreatif, khususnya ketika mereka akan mengkaitkan dengan pelajaran baru.

d.Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA meningkat.

e.Hasil belajar siswa pembelajaran IPA meningkat

f.Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan bagi sekolah tentang variasi pembelajaran dan peningkatan profesionalisme guru serta meningkatkan mutu proses pembelajaran.

Adapun manfaat dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:

a. Bagi diri peneliti, merupakan pengalaman yang berarti sebagai bekal untuk meningkatkan kemampuan dalam perbaikan proses pembelajaran;

b. Bagi Peserta Didik, membantu mengatasi kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran, terutama mata pelajaran IPA;

c. Bagi Guru, sebagai bahan koreksi dan perbaikan untuk melaksanakan proses pembelajaran bagi peserta didik pada masa-masa berikutnya;

d. Bagi Sekolah, meningkatkan pelayanan kepada pelanggan internal (peserta didik), meningkatkan sumber daya manusia guru, secara umum prestasi sekolah mejadi lebih meningkat.

  1. KAJIAN/TINJAUAN PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:741), menyatakan metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

  1. Pembelajaran Berdasarkan Masalah
    Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan salah satu bentuk pengajaran yang memberikan penekanan untuk membantu siswa menjadi pebelajar yang mandiri dan otonom. Melalui bimbingan yang diberikan secara berulang akan mendorong mereka mengajukan pertanyaan, mencari penyelesaian terhadap masalah konkrit oleh mereka sendiri serta menyelesaikan tugas-tugas tersebut secara mandiri (Ibrahim dan Nur, 2000).

Menurut Arends (1997:156), model Problem Based Learning sangat berguna untuk mengembang kan berpikir ke tingkat berpikir yang lebih tinggi dalam situasi yang berorientasi pada masalah, termasuk belajar bagaimana belajar. Model pengajaran ini cocok untuk materi pelajaran yang terkait erat dengan masalah nyata, meningkatkan keterampilan proses untuk memecahkan masalah, mempelajarai peran orang dewasa melalui pengalamannya dalam situasi yang nyata, serta melatih siswa untuk berdiri sendiri sebagai pebelajar yang otonom.
Pada pelajaran IPA, Problem Based Learning merupakan salah satu pembelajaran yang cukup menarik dan sudah siap untuk digunakan, pembelajaran berdasarkan masalah mengajak siswa-siswa dalam penyelesaian kasus permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan IPA, meningkatkan minat diskusi di antara siswa dan mendorong kegiatan belajar. Satu lingkungan yang menggunakan pembelajaran berdasarkan masalah lebih baik daripada praktik kerja/magang dan mampu membentuk para pembelajar untuk belajar dari sendiri, pembelajaran berdasarkan masalah juga lebih baik dari pada satu lingkungan yang menggunakan proses pembelajaran mimetis dimana siswa hanya melihat, mengingat, dan mengulang apa yang sudah mereka katakan (Osmundsen, 2001).

Peranan guru dalam Problem Based Learning adalah untuk mengajukan permasalahan, pertanyaan, dan menyediakan fasilitas yang diperlukan siswa. Arends (1997:156) menekankan pentingnya guru memberi scaffolding berupa dukungan dalam upaya meningkatkan inkuiri dan perkembangan intelektual siswa. Oleh karena itu dalam pengajaran berdasarkan masalah diperlukan untuk menyajikan kepada siswa pada situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan bantuan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.

Menurut Arends (1997:161) Problem Based Learning terdiri dari 5 tahapan utama yang dimulai oleh guru dengan orientasi dengan masalah pada siswa dan diakhiri dengan suatu penyajian dan analisis hasil dari kerja siswa, kelima tahapan tersebut seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Sintaks Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Tahap Perilaku Guru
Tahap-1 Orientasi siswa kepada masalah Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
Tahap-2 Mengorganisasi siswa dalam belajar Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi sesuai yang diperlukan, melaksanakan eksperimen dan penyelidikan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan pameran Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai yakni diagram futures wheels dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelesaian mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
(Sumber: Arends, 1997)

  1. Hasil belajar
    Kata hasil belajar memuat unsur dua kata yaitu prestasi dan belajar. Kata “prestasi” merupakan bentuk terjemahan dari bahasa Inggris “achievment” yang artinya tingkat kesuksesan individu dalam menyelesaikan tugasnya. Hasil belajar merupakan suatu hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Hasil belajar yang dicapai oleh anak yang satu dengan yang lainnya tidak sama.Winkel, WS (1980:162), prestasi adalah usaha yang dapat dicapai. Fuad Hasan (1982:38), menyatakan bahwa prestasi adalah pencapaian hasil (tujuan) setelah berusaha dan derajat keberhasilan yang dicapai dalam suatu tugas.
    Sumadi Suryabrata (1984:25), prestasi adalah hasil yang dicapai menurut kemampuan siswa dalam mengerjakan sesuatu.
    Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:895), menjelaskan prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dsb).
    Dari pendapat-pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa prestasi adalah hasil yang diperoleh seseorang secara individual setelah melakukan suatu usaha/kegiatan.

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses pembelajaran yang dialami oleh peserta didik. Ada beberapa ahli yang berpendapat tentang pengertian belajar.

Winkel, WS (1980:162), belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap.
Oemar Hamalik (1983:21), menjelaskan bahwa belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dari latihan.
Slameto (1987:2), memberikan definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

Oemar Hamalik (2003:36), merumuskan bahwa belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:17), menjelaskan belajar adalah (1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; (2) berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:895), hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.

Dari definisi-definisi tentang belajar yang dijelaskan oleh berbagai berbagai ahli tersebut dapat dijelaskan bawa belajar adalah perubahan tingkah laku dalam interaksinya dengan lingkungan sehingga dapat menghasilkan suatu perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Agar belajar dapat berkualitas dengan baik, perubahan tersebut harus dilahirkan oleh pengalaman dan interaksi antara manusia dengan lingkungannya.

3. Hakikat IPA
Secara umum istilah sains memiliki arti sebagai Ilmu Pengetahuan, oleh karena itu sains didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis sehingga secara umum istilah sains mencakup Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu Pengetahuan Alam. Secara khusus istilah sains dimaknai sebagai Ilmu Pengetahuan Alam atau “Natural Science”. Pengertian atas istilah sains sebagai Ilmu Pengetahun Alam sangat beragam. Conant, mendefinisikan sains sebagai bangunan atau deretan konsep saling berhubungan sebagai hasil dari eksperimen dan observasi. Campbell, dalam Poedjiadi, dalam Maslichah Asy’ari (2006:6) mendefinisikan sains sebagai pengetahuan yang bermanfaat dan cara bagaimana atau metoda untuk memperolehnya. Sedangkan menurut Carin & Sund dalam Maslichah Asy’ari (2006:6), sains adalah suatu sistem untuk memahami alam semesta melalui observasi dan eksperimen yang terkontrol.

Abruscato dalam bukunya “ Teaching Children Science” dalam Maslichah Asy’ari (2006:6) mendefinisikan tentang sains sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat serangkaian proses yang sistematis guna mengungkap segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:978), sains diartikan pengetahuan yang sistematis tentang alam dan dunia fisik, termasuk di dalamnya, botani, fisika, kimia, geologi, zoologi, dsb; ilmu pengetahuan alam.

Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut di atas secara umum dapat dijelaskan bahwa sains adalah pengetahuan manusia tentang alam yang diperoleh dengan cara yang terkontrol. Artinya sains selain sebagai produk yaitu pengetahuan manusia juga sebagai proses yaitu bagaiman cara mendapatkan pengetahuan tersebut. Untuk selanjutnya istilah sains kami sebut Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

  1. IPA sebagai Ilmu.
    Secara umum sekurang-kurangnya mencakup tiga aspek yaitu aspek aktivitas, metode dan pengetahuan. Ketiga aspek tersebut merupakan kesatuan logis yang harus ada secara berurutan. Keberadaan dan perkembangan ilmu harus diusahakan dengan adanya aktivitas manusia dan aktivitas tersebut harus dilaksanakan dengan menggunakan metode tertentu dan akhirnya aktivitas metodis tersebut akan menghasil- kan pengetahuan yang sistematis.
  2. Sains sebagai aktifitas manusia
    Menurut The Liang Gie dalam Maslichah Asy’ari (2006:8), sains sebagai aktivitas manusia mengandung tiga dimensi, yaitu:

1) Rasionalisasi, artinya merupakan proses pemikiran yang berpegang pada kaidah-kaidah logika;

2) Kognitif, artinya merupakan proses mengetahui dan memperoleh pengetahuan;

3) Teteologis, artinya untuk mencapai kebenaran, memberikan penjelasan/ pencerahan dan melakukan penerapan dengan melalui peramalan atau pengendalian.
Sains sebagai suatu metode dapat berbentuk:

4) Pola prosedural yang meliputi pengamatan, pengukuran, deduksi, induksi, analisis, sintesis, dan sebagainya;

5) Tata langkah, yaitu urutan proses yang diawali dengan penentuan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan data, penarikan kesimpulan, dan pengujian hasil. Dalam perkembangannya tata langkah ini dikenal dengan metode ilmiah sains sebagai pengetahuan yang sistematis terkait dengan obyek material atau bidang permasalahan yang dikaji. Adapun obyek material sains dapat dibedakan atas benda fisik/mati, makhluk hidup, peristiwa sosial, dan ide abstrak.
Sains dalam arti khusus sebagai Ilmu Pengetahuan Alam memiliki obyek material benda fisik yang meliputi segala benda/material yang ada di bumi(tanah, air, udara) dan antariksa (galaksi, matahari, planet, dan satelit) serta makhluk hidup yang meliputi hewan, manusia, dan tumbuhan. Sedangkan persoalan yang dikaji meliputi gejala perubahan materi/benda, struktur dan fungsi benda/makhluk hidup maupun proses-proses biokimiawi dalam tubuh makhluk hidup.

  1. METODE PENELITIAN
  1. Setting Penelitian
    1. Waktu Penelitian
      Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni s/d Agustus ) Tahun Pelajaran 2008/2009 selama kurang lebih 3 bulan, dan agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar maka penelitian ini dilaksanakan secara bersamaan dengan kegiatan pembelajaran.
    2.  Tempat Penelitian
      Penelitian dilaksanakan di SDN 2 Rawa Laut  Bandar Lampung Kecamatan Tanjungkarang Timur Kota Bandar Lampung. Adapun pertimbangan peneliti dalam menetapkan tempat uji coba penelitian adalah, bahwa SDN 2 Rawa Laut bersifat terbuka (open minded) dalam upaya menerima inovasi pendidikan.
    3.  Subjek Penelitian
      Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI semester I SDN 2 Rawa Laut tahun pelajaran 2008/2009 sebanyak 38 orang terdiri atas laki-laki 18 orang dan perempuan 20 orang.
    4. Obyek Penelitian
      Sedangkan obyek dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPA siswa kelas VI semester I pada pembelajaran konsep ciri-ciri khusus Beberapa Jenis Tumbuhan Melalui Problem Based Learning.
  2. Faktor-faktor yang Diteliti

PTK ini akan dilaksanakan dalam tiga siklus, dan pada masing-masing siklus tediri atas dua kali pertemuan (2×2×35 menit).
Adapun tahapan dalam penelitian ini meliputi empat tahapan yaitu:

Sebelum melakuakan penelitian, peneliti merancang sebuah pembelajaran dengan menerapkan metode Problem Based Learning  pada mata pelajaran IPA konsep ciri-ciri khusus bebrapa Jenis Tumbuhan siswa kelas VI SDN 2 Rawa Laut dalam dua siklus. Tahap selanjutnya adalah mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, menyusun silabus dengan mengambil kompetensi dasar mendeskripsikan ciri-ciri khusus beberapa Jenis Tumbuhan, menyiapkan instrumen tes, menyiapkan instrumen penelitian, dan lain-lain.

3. Rencana Tindakan
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam dua siklus dengan pembelajaran menggunakan metode Problem Based Learning. Setiap siswa diberikan LKS yang berisi soal/problem untuk mereka selesaikan.
Data yang terkumpul berupa tingkat keberhasilan setiap siklus, yaitu peningkatan hasil belajar siswa. Sesuai dengan intrumen yang kami gunakan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan pemberian soal tes, karena teknik ini digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Analisa data yang dilakukan tidak menggunakan uji statistik, tapi menggunakan teknik analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data ini mencerminkan penelitian kualitatif dengan latar belakang penelitian sebagai sumber pengambilan data yang bersifat alamiah. Analisis data bersifat deskriptif dengan manusia sebagai instrumen kunci, serta memperhatikan proses bagaimana peserta didik dapat memperoleh prestasinya. Jadi tidak semata-mata cukup dengan memperhatikan hasil yang diperoleh peserta didik saja. Adapun rencana tindakan yang akan dilaksanakan setiap siklusnya adalah sebagai berikut:

Siklus I

a.  Pelaksanaan tindakan,. Setiap siswa mendapatkan satu lembar kerja (LKS) yang berisi soal/problem untuk dikerjakan. Kemudian siswa bekerja mencari penyelesaian sosal-soal tersebut sampai dengan  batasan waktu tertentu. Siswa diberi kebebasan untuk memecahkan soal-soal tersebut dengan mencari informasi yang berhubungan dengan  masalahnya dari beberapa sumber yang tersedia. Setelah  batas waktu yang diberikan berakhir, hasil kerja siswa di kumpulkan untuk diperiksa dan di analisa oleh guru dan observer.

b. Observasi dan pengumpulan data. Bersama dengan observer peneliti melakukan pengamatan jalannya pembelajaran yang meliputi proses pengamatan terhadap aktivitas dalam pembelajaran secara keseluruhan, mengamati aktifitas siswa dalam Problem Based Learning, mengerjakan tugas LKS, pemaparan hasil di depan kelas; melakukan penilaian hasil dan membuat laporan hasil temuan; serta mengumpulkan data dan, menghitung prosentase keberhasilan belajar peserta didik.

c.  Mengamati kesulitan peserta didik dalam mengerjakan LKS dan diskusi kelas maupun kesulitan dalam Problem Based Learning.

d. Refleksi, berupa lembar observasi dan catatan selama kegiatan kemudian dikaji untuk direnungkan. Evaluasi atas tindakan yang telah dilakukan oleh peneliti dalam proses pembelajaran untuk diperbaiki dan dilaksanakan pada pembelajaran siklus berikutnya.

e) Mengambil kesimpulan

Siklus II

Siklus II akan dilaksanakan jika hasil dari siklus I masih terdapat kelemahan dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa belum mencapai indikator keberhasilan

4.  Data dan Jenis Data

Data yang diperlukan pada penelitian ini berupa nilai ulangan, yaitu nilai hasil ulangan pada setiap akhir siklus.

  1. Teknik Pengambilan Data

Dengan memperhatikan judul penelitian dan instrumern penelitian yang

digunakan, maka penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data tes. Pada setiap akhir siklus siswa diberi seperangkat soal untuk dikerjakan, kemudian diberi skor pada setiap jawaban yang benar sebagai pedoman untuk memberikan nilai pada siswa.

  1. Teknik analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif karena penelitian ini bertujuan unuk mengetahui sejauh mana metode Problem Based Learning  dapat meningkatkan hasil belajar IPA konsep ciri-ciri khusus bebrapa Jenis Tumbuhan pada siswa kelas VI semester I SDN 2 Rawa Laut  Tahun Pelajaran 20011/2012.
Dalam pelaksanaan analisis data kegiatan utamanya adalah mengolah skor menjadi nilai. Adapun tahap analisisnya adalah sebagai berikut:
a) Menyusun tabel frekuensi untuk tiap-tiap individu
b) Menghitung Mean( M)

  1. Indikator Kerja

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah jika siswa mampu mendeskripsikan dengan benar ciri-ciri khusus beberapa Jenis Tumbuhan. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan dan aktifitas siswa selama pembelajaran dengan Problem Based Learning, mengerjakan LKS, maupun dari pencapaian nilai hasil ulangan siswa pada setiap akhir siklus yakni 75% dari seluruh siswa mencapai batas angka Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65,00.

  1. Hipotesis Penelitian

Dengan menerapkan Problem Based Learning  dapat meningkatkan hasil belajar konsep ciri-ciri khusus bebarapa Jenis Tumbuhan bagi siswa kelas VI SDN 2 Rawa Laut Tahun Pelajaran 2008/2009.

  1. JADWAL PENELITIAN
NO JENIS KEGIATAN BULAN PELAKSANAAN
JUNI JULI AGUSTUS
1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4
1 Persetujuan Proposal x x
2 Persiapan Penelitian x x
3 Tindakan Kelas x x x
4 Pengolahan Data x x
5 Analisis  Hasil x x
6 Laporan Hasil Penelitian x x x

DAFTAR PUSTAKA

Suharsimi, Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Yogyakarta:Rineka Cipta

Asy’ari, Maslichah. 2006. Penerapan Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar.Yogyakarta:Materi Kuliah PPS II

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2008. Model Silabus Kelas VI. Jakarta:Depdiknas

Depdiknas. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka

________. 2004. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kelas I s.d. VI Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah.Jakarta:Depdiknas

Hamalik, Oemar 1983. Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar. Bandung:Tarsito

Kasbulah. 2001. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Malang:Universitas Negeri Malang

Nasution. 2003. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta:Bumi Aksara

Purwanto, Ngalim. 1998. Psikologi Pendidikan.Bandung:Remaja Rosdakarya
Roestiyah.2001.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta:Rineka Cipta

Samatowa, Usman. 2006. Bagaimana Membelajarkan IPA di Sekolah Dasar. Jakarta:Depdiknas

Slameto. 1987. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.Jakarta:Rineka Cipta

Sudjana, Nana. 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar. Bandung:Remaja Rosdakarya

Suryabrata, Sumadi.1984. Metodologi Penelitian. Jakarta:Raja Grafindo Persada

Sutanto, Purwo. 2007. IPA 6 untuk Kelas 6 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Klaten:Sahabat

Winkel. 1980. Psikologi Pengajaran. Jakarta:Gramedia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: