Total Quality Management Dalam Dunia Pendidikan

Oleh : Hamka

4 RSDBI 2 2011/2012

Total Quality Management (TQM) pada mulanya diterapkan dalam dunia bisnis kemudian diterapkan dalam dunia pendidikan. Penerapan TQM dalam instusi pendidikan merupakan hal yang baik. Secara filosofi, konsep TQM menekankan pada pencarian secara konsisten terhadap perbaikan dan berkelanjutan. dunia pendidikan, tuntutan inovasi terus-menerus merupakan hal yang harus dilakukan. Dengan kata lain, selalu berinisiatif memberikan layanan terbaik kepada anak didik.

Pada proses pelaksanaanya, institusi pendidikan sejalan dengan prinsip TQM memposisikan diri sebagai institusi jasa berlandaskan pada kepuasan pelanggan. Pelanggan istitusi pendidikan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pelanggan dalam (internal customer) dan pelanggan luar (external customer). Internal custom dalam dunia pendidikan adalah pengelola (manajer, guru, staff, dan penyelenggara institusi. Sedangkan external customer adalah pendukung dari luar institusi diantaranya masyarakat, pemerintah, dan dunia industri.

Institusi pendidikan sebagai institusi jasa dalam menerapkan TQM harus menjamin mutu. Penerapan manajemen mutu dalam pendidikan populer dengan sebutan Total Quality Education (TQE). Mutu sebagai produk institusi pendidikan didasarkan pada tuntutan kebutuhan dan tuntutan pengguna jasa, dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, mutu yang sesungguhnya (quality in fact) yaitu mutu lulusan institusi pendidikan yang sesuai dengan kualifikasi tujuan pendidikan berdasarkan kemampuan dasar dan kemampuan akademik. Kedua, mutu persepsi (quality in perception) yaitu mutu berdasarkan kepuasan dan bertambahnya minat pelanggan eksternal terhadap institusi pendidikan.

Lima hal pokok yang perlu diperhatikan institusi pendidikan dalam mengimplementasikan TQM dalam TQE, yaitu:
1.    Perbaikan secara terus-menerus (Continuous improvement).
Pengelola institusi dituntut melakukan inovasi secara terus-menerus dalam rangka menjamin standar mutu yang ditetapkan. Perbaikan yang dilakukan berfokus pada proses pelaksanaan pendidikan  sesuai dengan tuntutan pelanggan.

2.    Standar mutu (Quality assurance).
Standar mutu yang dimaksudkan disini adalah standar mutu dari komponen yang bekerja dalam proses trasformasi lulusan institusi. Standar mutu tersebut berupa kepemilikan kemampuan dasar sesuai bidang pembelajaran dan jejang yang ditempuh. Pihak manajemen harus menetapkan standar proses pembelajaran dengan standar penilaian (evaluasi) sesuai materi kurikulum.

3.    Perubahan Kultur (Change Culture)
Kunci sukses kultur TQM adalah rantai interna-ekstrenal yang efektif. Urgensi kultur membentuk budaya organisasi yang menghargai mutu sebagai orientasi semua komponen organisasi. Dalam kultur TQM, peranan manajer intitusi pendidikan memberikan dukungan kepada para staff dan guru dalam memberikan fokus pelayanan pelanggan yang baik dan pentingnya pelanggan bagi institusi.

4.    Perubahan organisasi (Upside-down organization)
Perubahan organisasi yang biasa terjadi adalah perubahan yang menyangkut internal organisasi. Perubahan organisasi tersebut berupa perubahan visi, misi, dan tujuan organisasi yang berpengaruh terhadap kinerja, kewenangan, dan tanggung jawab. Perubahan yang terjadi akan mempengaruhi sistem/struktur organisasi melambangkan perubahan sistem organisasi dan bentuk layanan pelanggan.

Perubahan yang terjadi diorganisasi bukan perubahan wadah. Perubahan wadah tidak terlalu mempengaruhi organisasi secara mendalam. Perubahan organisasi dalam hal ini adalah perubahan mengenai
5.    Mempertahankan hubungan dengan pelanggan (Keeping close to the customer)
Konsep TQM, organisasi yang unggul adalah organisasi yang menjaga hubungan dengan pelanggan.  Misi utama institusi harus berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggannya. Pertumbuhan dan perkembangan sebuah institusi bersumber dari kesesuaian layanan institusi dengan kebutuhan pelanggan. Organisasi TQM berjalan dengan sterategi memenuhi kebutuhan pelanggan, tanpa pelanggan, tidak akan ada institusi.

Berbicara tentang mutu, yang terlintas adalah sesuatu yang membedakan hal yang baik dan sebaliknya. Berdasarkan persepsi tersebut, standar mutu yang baik harus dipenuhi dan cari sumbernya. Sumber mutu di instusi pendidikan sangat banyak, diantaranya guru yang terkemuka, nilai moral yang tinggi, hasil ujian yang memuaskan, sumber daya, kepemimpinan, bimbingan terhadap anak didik, kurikulum, gedung sekolah yang bagus, letak sekolah, dll.

Penerapan TQM dalam institusi pendidikan tidak bisa serta-merta tetapi membutuhkan waktu. Esensinya, TQM adalah perubahan budaya merupakan proses yang lambat dan melibatkan semua elemen. Membangun mutu dibutuhkan kepercayaan, niat yang baik, dan kerja keras semua pihak. Dengan demikian satu langkah inovasi  telah dimulai untuk perubahan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Jakarta:     Direktorat Dikdasmen
Depdiknas. 2002. Pengembangan Standar Kompetensi, Jakarta: Direktorat Dikmenjur.
Depdiknas. 2002. Menuju Penerapan Secara Utuh Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi (Competency Based Training. Jakarta: Direktorat Dikmenjur
Sager, S.P. 1985 Motivasi dan Disiplin Kerja Karyawan untuk Meningkatkan     Produktivitas & Produksi, Jakarta: LSIUP
Sallis, Edwar.2006. Total Quality in Education, IRCiSoD

Siagian, S.P. 1985 Teori Motivasi dan Applikasi. Jakarta : Bina Aksara
Sumadi.2009. Copy Slide Persentasi MK Pengelolaan Pendidikan dan Pelatihan. B.L
Unila.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: